Shaheer Sheikh Bikin Ambyar, Pengalaman Nyata

Sebuah pertanyaan melintas di benak gue  kala suatu sore berharap bertemu Shaheer Sheikh di studio ANTV,  “Lebih enak jadi fans atau jurnalis, ya?” Gue pikir, kalau jadi fans bisa bertemu idolanya, kapan saja, di mana saja, tanpa perlu ada kepentingan apapun. Nah, kalau jurnalis mau ketemu artis idola tanpa ada kepentingan wawancara, gimana ngomongnya?

Ini pengakuan gue. Setelah 4 tahun kenal dan melewati puluhan kali pertemuan dengan  Shaheer Sheikh, baru tahun 2018 ini—tepatnya setelah dia ganti model potongan rambut beberapa waktu lalu—gue mendadak nge-fans sama Shaheer. Dulu tahun 2014, zamannya cewek-cewek histeris dengan kehadirannya, gue biasa saja melihat bintang Mahabharata ini. Gue malah bingung, kenapa  cewek pada tergila-gila sama dia, ya?

Di kala kaum hawa jatuh cinta sama Pangeran Arjuna dari India ini, gue malah takut sama dia. Karena di tahun pertamanya di Jakarta, menurut gue dia moody dan agak-agak galak. Itu menurut gue 4 tahun yang lalu, lo. Apalagi di masa dia menjalin hubungan dengan penyanyi dangdut—You Know Who—itu. Gimana parno dan takutnya gue sama Shaheer pernah gue sampaikan langsung ke dia di sela sesi wawancara eksklusif pada akhir Desember 2017.

 “Shaheer, kamu tahu enggak? Saya dulu takut sama kamu. Setiap kali mau mewawancarai kamu, saya selalu bertanya dulu pada humas ANTV, ‘apakah mood Shaheer hari ini baik? Kondisi dia, aman?’ Kalau menurutnya  mood kamu oke, saya baru merasa percaya diri mewawancarai kamu,” kata gue ke Shaheer.

Dia langsung tertawa mendengar pernyataan ini. “Why? Kamu seharusnya tidak perlu takut sama saya. Kenapa kamu harus takut? Ha ha ha,” kata Shaheer geli. Tapi ya, dia mengakui di masa-masa awal keberadaannya di Jakarta dulu, dia memang lebih moody. Itu karena dia baru beradaptasi dengan lingkungan kerja baru, orang-orang baru, serta belum terlalu mengerti bahasa Indonesia. Di luar itu, dia juga seorang manusia biasa. Di pengujung tahun 2017 dia mengungkapkan demikian, “Saya merasa, hanya karena saya aktor, orang berpikir saya harus ramah dan baik setiap saat. Itu enggak mungkin. Saya aktor, tapi saya juga masih manusia.”

Namanya manusia bukan keturunan Dewa, pasti ada saatnya lelah. Ada saatnya enggak mood atau suasana hati kurang oke. “Kalau saya mengiakan ajakan berfoto 15 orang dalam sehari, orang akan mengatakan saya baik.  Bila saya bilang tidak, orang akan marah,” ungkapnya.

Seiring tahun berganti, banyak orang dan penggemar melihat perubahan sikapnya. Khususnya 2 tahun terakhir ini. Minimal, kalau di mata gue, dia lebih hangat, lebih merakyat, lebih terbuka—kecuali soal pacar, ya. Itu sudah kayak “standard operation procedur”-nya Shaheer, enggak terlalu mau berbagi kehidupan cinta.  Kalau dulu foto sama dia kaku kayak foto sama patung lilin, wah sekarang melebur cair.

“Ya, saya berubah,” Shaheer mengakuinya, di sela wawancara tahun lalu itu. Semakin mengenalnya kamu akan melihat dia orang yang  menyenangkan. Mengekspresikan apa yang ia rasa, apa adanya. Enggak perlu berlebihan. Hanya menjadi dirinya sendiri. Dia rupanya juga humoris, suka bercanda dan suka memuji, seperti manusia umumnya.

Suatu kali, setelah sekian tahun tak bertemu dengannya, gue ketemu lagi di saat perilisan serialnya Malaikat Tak Bersayap (Oktober 2017). Dia bisa ngomong gini, “Oh My God, lihat siapa ini.  Apa kabar? Kamu sekarang terkenal, seperti seleb. Semua aktor India menyayangimu,” ujarnya dengan senyum lebar.

Gue dengan gaya sok cool dan setengah perezzz menimpali, “How come? Well, sepertinya ini berkat kamu (jadi terkenal).”

“Berkat saya bagaimana? Berkat kamu sendiri,” balasnya lagi.

 Lalu sang Arjuna mengajak  berswafoto sambil berujar, “Saya mau foto dulu sama seleb.” Tak terduga diunggahnya hasil swafoto ini di IG Story-nya, yang menuai beragam komentar lucu, kala itu.

Di lain waktu tak sengaja bertemu lagi dengannya. Dia lagi mau dubbing di studio ANTV, gue habis ketemu aktor India lainnya. Mas Bejo—panggilan akrabnya—yang  dulu gue segani ini bisa memuji, “Wow, kamu sekarang  modis.” Ah, bisa saja. Itu pasti gara-gara gue pakai topi sama sepatu bling-bling ala Michael Jackson. Mas Bejo, kini dia lebih ceria, relaks, banyak tertawa.

Gue pun suatu hari memuji di hadapannya langsung, “Aktor India datang dan pergi, tapi hanya kamu yang eksis bertahun-tahun di sini, kamu tak lekang oleh waktu.” Dia pekerja keras dan gigih mempelajari banyak hal. Mengutamakan kualitas, bukan popularitas.

Shaheer berhasil meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia hingga lancar. Dimana bahasa menjadi faktor utama ketika berkarier di negeri asing. Perkara akting, sejak zaman Mahabharata memang tak diragukan. Karya-nya pun di sini banyak, dari sinetron, film,  iklan, sampai memandu acara bareng host beken seperti Daniel Mananta.

Setelah film Indonesia pertamanya, Turis Romantis (2015), gue hanyut menyimak aktingnya sebagai pejuang dari Makassar, Datu Museng, di film kolosal Indonesia berjudul Maipa Deapati & Datu Museng, tahun ini. Penampilannya total, bahkan ia berdialog dalam bahasa Makassar di film ini.

Perlahan tapi pasti, tanpa disadari, gue sudah nge-fans! Agak lemot alias telat. Butuh waktu 4 tahun untuk melihat sisi lain dirinya. Buat gue situasi malah jadi repot kala nge-fans sama dia, karena gue gengsian.

Mau ketemu dia, sebenarnya bisa langsung WhatsApp, tapi gengsi. Yang ada, gue WhatsApp orang kepercayaannya, Andri atau kerap dipanggil Subadra. Pengin foto bareng saja pakai izin asistennya atau orang ANTV. Pengin ngasih hadiah, gengsi juga.

Sebagai jurnalis, gue pernah berani mengorek-ngorek kehidupan pribadi dan percintaannya. Sebagai fans, hal terjauh yang berani gue lakukan adalah memberinya 2 botol jus Rejuve untuk berbuka puasa. Satu lagi,  mengagumi karya dan perubahan dirinya dari jauh. Yup, Gue akhirnya nge-fans, tapi gengsi. Gimana, dong?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here