Kontestan Single’s Inferno Tampak Terlalu Sempurna, Seberapa Nyata Ajang Cari Jodoh Besutan Netflix Ini?

single's inferno

Dengan kontestan yang terlihat seperti karakter dari drama Korea alias drakor dan alur cerita yang tidak akan keluar dari naskah film, acara televisi realitas tentang pencarian cinta yang satu ini telah menangkap imajinasi penonton, tidak hanya di Korea Selatan tapi juga global.

Single’s Inferno baru-baru ini menjadi salah satu program yang paling banyak ditonton di Netflix, dan seberapa banyak “kenyataan” yang terkandung di dalamnya adalah masalah lain.

Dengan tubuh mereka yang tinggi dan proposional, rahang yang bak dipahat, dan deretan gigi putih yang tampak lewat senyum yang sempurna, para kontestan di Single’s Inferno tidak hanya menonjol karena standar kerupawanannya yang di atas rata-rata.

single's inferno
Para kontestan wanita Single’s Inferno yang tampil dengan tubuh ideal dan proposional / Kredit: Netflix

Latar belakang mereka juga telah diverifikasi oleh tim produksi Netflix sebaik mungkin, dimana mereka memiliki pendidikan dari universitas kelas dunia, dengan karir yang didambakan secara sosial dan penghasilan yang besar, baik sebagai dokter, model atau pengusaha, dan telah disaring untuk mencari kepribadian yang unik dan menarik, mereka tampaknya ideal dalam hampir semua hal.


Dan jika para kontestan hanyalah orang biasa, situasi yang mereka hadapi bahkan lebih tidak masuk akal. Dianggap sebagai versi Korea Selatan dari acara kencan Amerika Serikat yang vulgar, Too Hot to Handle, Single’s Inferno menampilkan 12 orang yang terdampar di pulau terpencil yang dianggap sebagai “neraka” dan bisa meninggalkan pulau itu serta merasakan “surga”, yang disimbolisasikan dengan hotel mewah, hanya dengan berkencan dengan kontestan lain.

single's inferno Netflix
12 orang kontestan Single’s Inferno / Kredit: Instagram Kim Hyeon Joong

Di negara yang berjuang dengan titik terendah dalam sejarah terkait perkawinan dan tingkat kelahirannya, hanya sedikit dari pertunjukan tersebut yang menunjukkan “kenyataan”, dimana sebagian besar pengamat mengatakan Single’s Inferno merupakan pengaburan antara dunia “nyata” dan “selebriti”, yang mengklaim bahwa para kontestan ini adalah, setidaknya di atas kertas, orang biasa seperti kita, yang membuatnya begitu populer. Setelah dua episode pertamanya ditayangkan perdana pada 18 Desember, Singles Inferno sukses menjadi serial televisi non-drama pertama dari Korea Selatan yang masuk ke dalam daftar  program 10 besar Netflix global, dan menjadi acara yang paling banyak ditonton di Netflix Korea.

“Munculnya peserta yang semi-selebriti, atau orang biasa yang terlihat seperti selebriti, adalah alasan utama saya menonton acara ini,” kata Kim So Ri, 26, yang bekerja di sebuah perusahaan saham, sebagaimana dikutip melalui South China Morning Post. “Saya tidak tahu ada begitu banyak individu rupawan dengan latar belakang elit.”

Singles Inferno bukanlah ajang pencarian jodoh pertama Korea Selatan yang menarik minat penonton.

single's inferno Netfix Heart Signal
Kim Hyeon Joon (paling kiri), Oh Jin Taek dan Choi Si Hun, para kontestan pria yang super tampan / Kredit: Netflix

Tayangan serupa yang pertama kali hadir di negara ginseng tersebut adalah Jjak (atau disebut juga Match/Couple) yang terasa jauh lebih serius. Ditayangkan pada jam tayang utama, acara tersebut menampilkan 10 kontestan yang tinggal bersama selama seminggu untuk menemukan “pasangan” mereka.

Bahkan penonton yang paling skeptis pun akan mengakui bahwa romansa yang terbentuk dalam Jjak, setidaknya, tampak sangat nyata. Dalam tiga tahun penayangannya, acara tersebut menghasilkan 16 pasangan suami istri. Namun konsekuensi kehidupan nyata dari acara juga menjadi penyebab dihentikannya program tersebut. Jjak terpaksa berhenti tayang pada tahun 2014 menyusul kasus bunuh diri yang dilakukan salah satu peserta wanitanya, sebagaimana dilansir melalui Soompi. Sebuah insiden yang bagi banyak kritikus menimbulkan tanda tanya apakah acara semacam itu harus terus mengudara.

Namun, empat tahun kemudian genre kecan realitas bangkit kembali lewat Heart Signal. Acara ini juga menampilkan kontestan yang tinggal bersama dalam satu rumah, tetapi sekarang, produser telah memahami nilai mengaburkan dunia realitas dan selebriti. Sentuhan Heart Signal adalah mengundang panel selebritas untuk bereaksi terhadap kejadian di dalam rumah.

Acara tersebut menjadi begitu ramai dibicarakan sehingga para kontestan sendiri, biasanya orang-orang dengan pekerjaan “biasa”, entah sebagai pekerja kantoran, koki atau bahkan artis, dapat menikmati karir kedua dengan menggunakan status baru mereka sebagai selebriti untuk tampil di acara televisi lainnya.

Namun, dengan kaburnya batas antara kenyataan dan selebritas, penonton sudah mulai memahami bahwa romansa bukanlah perhatian pertama produser acara atau pesertanya.

Bagi banyak pemirsa, menjadi semakin sulit untuk mengabaikan fakta bahwa, tidak seperti Jjak, beberapa hubungan yang lahir di acara itu akan bertahan dalam kehidupan nyata, tidak peduli seberapa tergila-gilanya pasangan tersebut satu sama lain seperti yang tampak di layar.

Kim menambahkan, “Karena ada anggota pemeran dari acara kencan lain yang telah menjadi influencer populer, saya tidak bisa tidak berpikir bahwa tujuan tampil di acara ini adalah untuk menjadi terkenal.”

Namun, daripada menyimpulkan sentimen seperti itu bahwa sudah waktunya untuk menekankan kembali sisi “kenyataan” dari program cari jodoh, produser Single’s Inferno tampaknya mengarah ke sisi yang lain, dan melakukan yang terbaik untuk menemukan kontestan yang terlihat hampir terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Kontestan yang menjadi pusat perhatian semua orang adalah Song Ji A, seorang YouTuber kecantikan, yang sampai dengan saat tulisan ini ditulis telah memiliki 3,2 juta pengikut di Instagram.

song jia dan cha hyun seung
Song Ji A (kiri) dan Cha Hyun Seung, dua orang kontestan yang paling menarik perhatian pemirsa / Kredit: Netflix

Seperti yang dikatakan Yoo Ji Sang, seorang pendidik berusia 28 tahun yang berhenti menonton Heart Signal karena “menjadi membosankan”, “Saya mulai menonton Single’s Inferno karena para pesertanya terlihat jauh lebih menarik kali ini.”

“Program realitas pencarian cinta selalu memiliki ceruk di hiburan Korea,” ujar Jeon Hye Rin dari tim bisnis konten di platform online streaming TVING. “Sementara acara-acara ini mendapatkan peringkat bagus di saluran linier, lompatan ke layanan streaming online memungkinkan mereka memiliki lebih banyak kebebasan.”

Mengenai apakah acara kencan lebih “realistis” daripada serial drama, Jeon bersikeras bahwa sebagian besar acara kencan adalah “nyata”.

“Karena para pemeran perlu menghadapi situasi di depan mereka secara real time, mereka terkadang bertindak berani sementara mereka lebih mesra di lain waktu,” katanya.

“Karakter acara kencan adalah orang-orang dalam kehidupan nyata, jadi pemirsa jauh lebih mudah dibujuk dan berasimilasi dengan perasaan mereka.”

Bahkan Single’s Inferno memiliki momen untuk membuatnya tetap nyata. Seperti acara kencan Korea Selatan lainnya, acara ini tidak menitikberatkan pada ketertarikan fisik yang terlihat jelas, seperti berciuman, tetapi cenderung memperbesar perilaku kecil yang ditampilkan pria terhadap wanita. Misalnya, penggemar menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan betapa “manis” seorang pria, sementara wanita dipuji karena “kelucuan” dan “pesona” mereka.

single's inferno
Para kontestan Single’s Inferno saat pertemuan awal / Kredit: Netflix

Titik berat lain dalam kehidupan kencan Korea Selatan, tercermin secara akurat lewat pemilihan kontestan dimana sebagian besar pemeran pria berusia antara tiga dan enam tahun lebih tua dari rekan-rekan wanita.

Meski begitu, Yoo sang pendidik menambahkan perasaan bosan seperti saat menyaksikan program sebelumnya pun mulai muncul.

“Saya hanya tidak tahu apakah saya bisa menyelesaikan yang ini juga,” katanya tentang Single’s Inferno. “Semua yang mereka katakan di acara itu rasanya hanya seperti saling menggoda yan dilakukan secara biasa. Hal itu tidak benar-benar terjadi ketika kamu pergi kencan buta di kehidupan nyata. ”

Jadi, bagaimana menurut kamu ladies? Apakah ajang pencarian jodoh Single’s Inferno memang benar-benar nyata atau hanya sebuah pertunjukan kencan yang memang ingin diperlihatkan kepada penonton sebagai sebuah bentuk drama yang terasa lebih nyata? Jangan lupa bagikan pendapatmu di kolom komentar di bawah ini!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here