Seharian di Kota Tua Jakarta: Mengulik Sejarah dan Misteri di Museum

Sejak Oktober 2021 lalu, Kawasan Kota Tua sudah dibuka lagi buat umum nih gaes! Beberapa pintu masuk seperti Jalan Lada masih ditutup tapi untuk menuju Taman Fatahillah kamu bisa berjalan sedikit berbelok ke kanan melewati Stasiun Kota, tepatnya di Jalan Pintu Besar Utara, dan jalan dekat Taman Kota Intan. Pengecekan aplikasi peduli lindungi lewat scan QR juga diberlakukan disini jadi sebaiknya disiapkan sebelum berangkat.

Sambil menunggu sore menjelang, kamu juga bisa menjelajah banyak Museum dan bangunan tua yang tersebar di sekitar kawasan Kota Tua sambil mempelajari sejarah dan mengulik kisah mistis dibaliknya! Seru kan!

Museum Mandiri

Memiliki arsitektur berciri khas art deco, kaca patri bersimbol NHM yang melambangkan empat musim di Belanda jadi ciri khas yang menarik sekaligus mirip dengan kaca patri yang berada di Lawang Sewu. Museum yang beroperasi dari jam 09.00-15.00 setiap hari kecuali hari Senin ini dijamin bisa menambah wawasan kamu. Di dalam museum ber lantai 3 ini menampilkan diorama operasional perbankan masyarakat pada zaman kolonial serta barang-barang jadul seperti peti uang, mesin hitung mekanik, safe deposit box dan berbagai surat berharga seperti deposit.  

Walaupun Museum Mandiri punya bangunan yang instagenic, tapi masih tetap terasa suramnya. Youtuber Billy Christian pernah collab dengan anak Indigo Frisly Herlind dalam channel ‘Indigo Talk’ yang melakukan penelusuran virtual di museum tersebut dan menemukan penampakan’ orang-orang Belanda dan Indonesia’ yang mirip dengan diorama patung disini dalam jumlah yang lebih banyak. Frisly juga mengungkapkan ada makhluk astral yang menunggu ruang bawah yang sekarang dibatasi oleh kerangkeng sehingga tidak bisa dilewati pengunjung. Kamu penasaran? Cuss langsung ajak teman-teman kamu kesini!


Museum Wayang

Berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara No.27 Pinangsia, pada awalnya, museum ini adalah gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama ‘de oude Hollandsche Kerk’. Pada tahun 1732 gedung ini berfungsi sebagai tempat peribadatan penduduk sipil dan tentara Belanda yang tinggal di Batavia. Akibat gempa, bangunan Gereja Belanda tersebut rusak sehingga dibangun kembali sebuah gedung yang difungsikan sebagai gudang milik perusahaan Geo Wehry & Co. 

Museum ini punya berbagai macam koleksi wayang dari dari dalam dan luar negeri. Dari Indonesia sendiri karakter kesayangan kita semua Boneka Unyil dan kawan-kawan juga ada loh disini. Saat ini museum wayang punya koleksi lebih dari 4.000 buah wayang. Tidak kalah menarik buat disimak juga adalah selentingan cerita-cerita mistis yang beredar. Kesaksian penjaga museum mengatakan ada penampakan hantu tanpa kepala dan wayang yang bergerak sendiri sampai terlihatnya sosok raksasa pada malam hari dan suara aba-aba komando Belanda disertai ringkikan kuda yang misterius.

Ayo meluncur kesini, tiket masuk per-orang 5 ribu untuk dewasa, 3 ribu untuk pelajar dan 2 ribu saja untuk anak-anak. Tiket ini bisa dibeli di pintu depan museum dalam bentuk Jak-Card ya gaes!

Museum Sejarah Jakarta

Museum yang dibangun pada 1707 ini lebih banyak dikenal luas dengan nama Museum Fatahillah karena berdiri megah di depan Taman Fatahillah. Bangunan bergaya Neo Klasik yang didesain oleh adalah W.J. van de Velde dan J. Kremmer ini mirip dengan Istana Dam di Amsterdam. Sejarah mencatat gedung museum ini pernah jadi Balai Kota Batavia, kantor urusan administrasi kota Batavia, Dewan Pengadilan Museum, tempat pengumpulan logistik tentara Kekaisaran Jepang bangunan, juga saksi bisu banyak peristiwa. Salah satunya peristiwa dahsyat adalah serangan pasukan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada tahun 1626.  Peristiwa itu juga dituangkan oleh S.Sudjojono ke dalam karya lukisan yang diberi judul ‘Pertempuran Antara Sultan Agung dan J. P. Coen’.

Untuk menambah keseruan jelajah museum kamu, jangan lupa buat menengok ruang bawah tanah yang dulu pernah dipakai sebagai penjara tidak berventilasi. Konon pada zaman kolonial Hindia Belanda cukup banyak tahanan yang mati sebelum sempat diadili di Dewan Pengadilan. Kondisi tahanan yang buruk membuat mereka meninggal karena menderita penyakit tifus, kolera dan kehabisan oksigen.  Tidak heran kalau beredar kabar sering tercium bau seperti amis darah, terdengar suara tangisan, dan penampakan sosok bayangan hitam noni noni Belanda. Jangan sampai kelewatan ya!

Museum Seni Rupa dan Keramik
Berdiri megah agak di pojokan kawasan Kota Tua, dulunya gedung museum ini digunakan Belanda sebagai Lembaga Tinggi Peradilan (Raan Van Justitie) pada tahun 1870. Pada masa pemerintahan Jepang, tempat ini digunakan sebagai asrama militer. Arsitektur gedung ini bergaya Romawi dengan delapan tiang besar sebagai penopangnya, terlihat keren kalau kamu berfoto di bagian depan loh!. Sekitar 500 koleksi karya seni mulai dari seni tekstil seperti batik, lukisan, koleksi patung sampai koleksi keramik semua disimpan dengan apik disini. Di lantai atas yang sekarang masih ditutup juga terdapat ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keramik dari China, Jepang, Arab, dan Eropa. Koleksi ini berupa piring-piring dan alat makan dengan hiasan pola tertentu yang dari situ bisa diketahui periode pembuatannya.  Cukup banyak selentingan kabar yang mengatakan bahwa di ruangan ini menyimpan kisah mistis karena beberapa orang pernah melihat penampakan mirip orang-orang China masa lalu yang berjalan kesana kemari lalu menghilang. Kamu berani kemari sendirian gak?

Museum Bahari

Letaknya agak jauh dari kawasan museum lain tapi tidak mengurangi rasa penasaran untuk disinggahi. Berdiri di bangunan bekas komplek gudang milik Hindia Belanda, bagian tertua museum dibangun pada kepemimpinan Gubernur Christoffel van Swoll dibangun pada tahun 1652 hingga 1771 dan Oostzijdse Pakhuizen atau komplek gudang sisi timur. Pada jaman Belanda bangunan ini dulunya adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditas utama VOC yang laris di Eropa kala itu.

nyero.id

Selain eksterior bangunanya keren untuk OOT kamu juga bisa melihat koleksi-koleksi seperti jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Ada juga perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran seperti alat navigasi, jangkar, teropong, mercusuar dan meriam.  Menempati bangunan lama, museum ini memiliki pencahayaan yang kurang maksimal untuk beberapa ruangan membuatnya banyak dijuluki salah satu museum angker. Salah cerita yang santer berkembang adalah adanya lukisan Laksamana Malahayati yang matanya bisa bergerak sendiri ataupun penampakan gadis Belanda dan anak kecil yang sedang bermain di atas Meriam yang ada di bagian depan museum.

(berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here