Review The Penthouse: War in Life 3 yang Berakhir Menyesakkan Dada

0

Perhatian, review ini mengandung spoiler, jika setuju silakan membaca sampai akhir!

Pada akhirnya semua hal baik harus berakhir, tetapi untuk drakor populer The Penthouse: War in Life, yang baru saja mengakhiri musim ke-3 dan mudah – mudahan terakhir, “kebaikan” itu sudah lama menghilang.

Musim ke-3 sekaligus penutupan dengan cerita yang demikian berlarut-larut, yang diperpanjang 2 episode meskipun peringkatnya menurun, dan dengan malas berputar-putar meniru adegan – adegan yang menjadi soroton di musim sebelumnya, hingga mencapai klimaks yang asal-asalan dan tidak menyenangkan.

Drama dengan genre makjang (penuh dengan alur plot-twist), mirip dengan opera sabun ala Barat, mengandalkan melodrama dengan puncak yang membabi buta, dan sering diakhiri dengan kematian besar. Dalam banyak kasus, karakter yang telah meninggal ini bisa hidup kembali, atau mungkin saudara kembar mereka yang telah lama hilang akan muncul, atau terkadang keduanya bisa terjadi.

The Penthouse: War in Life memberi penonton beberapa momen seperti itu dalam perjalanan ceritanya, tetapi jumlah penghidupan maupun kasus saudara kembar para tokoh benar-benar meningkat di musim ke-3, dan secara mengejutkan hanya sedikit karakter yang berhasil mencapai garis akhir kisah.

Kematian karakter utama bisa menjadi momen yang sangat emosional dalam serial drama, tetapi dalam seri The Penthouse: War in Life, karakter berulang kali mati dan hidup kembali dengan sigap.

Kim So Yeon sebagai Cheon Seo Jin

Di babak terakhir, Shim Su Ryeon (Lee Ji Ah) entah kenapa bunuh diri, seperti yang dilakukan Cheon Seo Jin (Kim So Yeon), yang lebih mudah diterima pemirsa. Sedangkan Logan Lee (Park Eun Seok) meninggal karena kanker, dan Joo Dan Tae (Uhm Ki Joon) mendapatkan adegan kematian dengan sangat layak yang tentunya ditunggu-tunggu oleh pemirsa setia. Meskipun kematian adalah konsep fana di The Penthouse: War in Life, episode final berakhir dengan Shim Su Ryeon dan Logan berjalan melalui terowongan ke akhirat, terhubung oleh benang merah nasib.

Logan Lee dan Shim Su Ryeon

Dari karakter yang tersisa di dunia drakor, Bae Ro Na (Kim Hyun Soo) berhasil menjadi diva ternama dan mantan saingannya di sekolah, Ha Eun Byeol (Choi Ye Bin) dan Joo Seok Kyung (Han Ji Hyun) menjadi guru menyanyi dengan hati yang lebih bersih. Ha Eun Byeol sekarang tidak bisa menyanyi lagi, setelah secara dramatis melukai pita suaranya saat persidangan ibunya, Cheon Seo Jin.

Kim Hyun Soo sebagai Bae Ro Na

The Penthouse: War in Life tidak pernah berpura-pura menjadi apa pun selain jalan cerita yang penuh histeria bernada tinggi, tetapi sementara kelebihannya tetap ada sampai akhir, ia kehilangan energi berputarnya dan merasa dipaksa sehingga berujung pada rasa lelah. Namun ada beberapa momen yang cukup menonjol, seperti monolog batin Cheon Seo Jin yang terasa lucu dimana ia mengungkapkan kebenciannya pada Shim Su Ryeon yang dimulai ketika mereka berdua membawa pai kemiri yang sama ke sebuah pesta makan malam.

Hal yang juga menghibur adalah adegan di mana Cheon Seo Jin yang penuh amarah mengira Bae Ro na adalah putrinya Ha Eun Byeol di ruang latihan dua lantai yang berada di dalam Hera Palace. Dia bergumul dengan Bae Ro Na dan mantan suaminya Ha Yoon Chul (Yoon Jong Hoon) dan membuat mereka jatuh dari tangga, hingga membuat pecah tempurung kepala Ha Yoon Chul, sementara Cheon Seo Jin tersandung ke balkon, berayun dari lampu gantung, jatuh dan berteriak. Ketika lampu terjatuh dari langit-langit dan menusuknya.

Terlepas dari pukulan yang sangat mematikan ini, pada awal episode berikutnya, Cheon Seo Jin tidak tampak terluka dan terlihat bugar kembali, hanya saja ia menderita demensia dini akibat induksi obat, yang menyebabkan terjadinya pertengkaran berdarah, atau begitulah yang kami pikir. Namun, ternyata dia tahu bahwa putrinya telah mencoba meracuninya dan diam-diam memuntahkan anggur yang dia minum.

Mungkin tidak adil untuk menahan The Penthouse: War in Life dengan standar logis yang ketat, tetapi di musim ketiga terlihat jelas bahwa para penulis tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjaga konsistensi. Roda naskah terlepas dari kendaraan drama dan narasinya semakin tidak menentu sehingga menyebabkan setiap peristiwa, tidak peduli seberapa bombastisnya, tidak lagi terasa mengejutkan.

Drama ini memang kurang konsisten dalam plotnya, tetapi yang paling meresahkan, serial The Penthouse: War in Life juga melupakan permintaan maaf yang telah dibuatnya kepada pemirsa. Di awal musim terakhir ini, The Penthouse: War in Life mendapat kecaman setelah kemunculan saudara kembar Logan, Alex (juga diperankan oleh Park Eun Seok) dengan menggunakan penampilan yang dianggap rasis dan termasuk dalam cultural appropriation dimana ia terlihat dengan rambut gimbal dan tato di wajah dan lehernya serta berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Vernakular Afrika-Amerika

Karakter Alex yang diprotes publik

Baik Park Eun Seok maupun produser drama meminta maaf atas keresahan yang ditimbulkan, kemudian membuat Alex menghilang, sampai tiba – tiba dia muncul kembali di paruh belakang musim tersebut dengan semua karakteristik bermasalahnya secara utuh.

Adalah satu hal ketika kita sedikit tidak mengerti tentang apa yang mungkin menjadi hal biasa tapi bisa menjadi hal yang sensif bagi lainnya. Terlebih setelah meminta maaf atas keteledoran yang dilakukan tapi kemudian dengan terang-terangan mengulangi kesalahan yang sama, berharap orang tidak akan peduli lagi dengan isu yang sebelumnya diangkat beberapa minggu kemudian.

Sayangnya, itulah yang terjadi, karena tidak ada reaksi ketika Alex muncul kembali. Tapi itu mungkin karena semua orang yang peduli sudah lama menyerah terhadap jalan cerita yang diusung The Penthouse: War in Life.

Selanjutnya The Penthouse: War in Life berhasil memicu kontroversi lagi setelah momen terbesarnya musim ini lewat penghancuran Menara Hera. Tokoh kejam Joo Dan Tae akhirnya bertemu sang Pencipta ketika dia memasang bom agar Hera Place meledak dan menekan tombolnya saat dia jatuh dari jendela hunian mewah tersebut, setelah ditembak di kepala oleh Shim Su Ryeon.

Lee Ji Ah sebagai Shim Su Ryeon

Momen ini menawarkan akhir yang pas untuk kematian antagonis paling dibenci sepanjang drama, akan tetapi gambar yang dihasilkan dari menara yang runtuh ternyata merupakan hasil cuplikan kejadian nyata dari bencana mematikan yang terjadi baru-baru ini di Korea Selatan, hingga membuat pemirsa protes keras karena kurangnya sensitivitas tim produksi.

Drama makjang ini memang berhasil membuktikan dirinya sebagai penguasa rating dengan memberikan suguhan yang menyenangkan pemirsa lewat penampilan bergaya para penjahat dalam lingkaran masyarakat kelas atas, dan membuat penonton terhibur dengan set yang mewah serta berbagai kejutan yang di luar batas nalar.

Sayangnya, 3 musim drama yang berlangsung berturut-turut dalam waktu satu tahun akhirnya mengubah sesuatu yang hidup dan menyenangkan menjadi amat terburu-buru dan ceroboh, di mana para penulis jelas-jelas berebut untuk menciptakan momen-momen histeria baru setelah kehabisan persediaan ide yang cemerlang.

Belum menonton drama yang menguras emosi akibat luapan keinginan untuk memaki para tokoh kriminal dalam The Penthouse: War in Life? Kamu bisa saksikan lewat layanan streaming online Vidio dan Viu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here