Gejalanya Covid, Tapi Kok Negatif? Kisah Nyata

0

Weekend ini, Sabtu (30/7) Podcast Perempuan Berbagi Cerita akan berbagi  testimoni dari seorang sahabat yang baru melewati pengalaman agak menakutkan. Tapi di tengah kengerian COVID-19 ini, iman dan keyakinannya membawanya pada sebuah mujizat.

Minum Obat, Gejala Kian Memburuk

Nara merasakan tubuhnya mulai demam. Suhunya ada di angka 38-39 derajat. Tubuhnya terasa lemah, disertai tenggorokan yang sakit, batuk-pilek. Kepala terasa sakit. Panas ini labil, kadang turun, kadang timbul. Tubuh terasa lemas, hingga tak bisa banyak beraktivitas. Setelah dua hari, indera perasa dan penciumannya hilang.

Ia pergi ke dokter, untuk memeriksa apa yang terjadi pada dirinya. Dokter di klinik, memberinya obat penurun panas, dan obat untuk batuk-pilek. Kata dokter, “Kalau dalam 3 hari tidak membaik, maka segera lakukan tes.

Tiga hari berlalu, gejala-gejala yang dirasa tadi tak menurun, malah rasanya semakin memburuk dan keluhan bertambah. Kini, sesekali mulai merasakan sesak. Persendian diserang, rasanya sakit dan lemah. Sungguh-sungguh lemah. Kaki pun rasanya dingin, hingga dilihat pun warna kulit area kaki menjadi sangat putih, pucat. Karena gejala yang dirasa makin menggila,  di hari keempat, ia melakukan tes swab antigen di sebuah klinik. Hasilnya negatif. Sepulang dari melakukan tes, badan terasa luar biasa lemah. Hingga ia tak bisa melakukan apapun. 

Saat malam hari, menjadi saat paling menyiksa. Tak bisa merasa, tak bisa mencium, sampai hampir tak bisa bernafas. Dada sesak sepenuhnya. Bicara pun mulai susah. Di paru-parunya terasa ada cairan lengket melekat. Dia bertahan, mencoba berjuang dengan paracetamol, obat batuk, dan vitamin.

Ada perasaan tersembul dari lubuk hati yang paling dalam. Apa yang dirasa, seperti Covid. “Seumur hidup saya tidak pernah merasa sakit, sesakit ini,” ungkapnya. Dia tahu, ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dokter pun tidak bisa menjawab dengan pasti apa yang terjadi. Pergi ke rumah sakit? Di masa ini, tidak bisa serta merta bisa mudah masuk rumah sakit. Dia meminta orang rumah jangan panik.

Malam yang Menyiksa, Sesak Hampir Tak Bisa Bernafas

“Tapi saya langsung melakukan protokol dengan ketat. Saya mengisolasi diri di kamar. Sama sekali tidak keluar. Memakai masker, meskipun saat sedang tidur. Meskipun rasanya tersiksa.” Sendiri di kamar, tetap memaksa, mendorong dirinya untuk makan sebanyak-banyaknya, meski badan lemah, dan lidah tidak dapat merasakan apa-apa. “Cuma bisa merasakan tekstur. Makan apapun enggaka da rasanya,” ujarnya.

Tiba di malam paling menyiksa. “Tuhan, saya hampir tidak bernafas. Dada saya sakit. Tenggorokan ini sakit. Rahang-rahang, gigi sakit, nyeri dahsyat ini terasa sampai ke telinga, dengan sakit kepala luar biasa. Saya hanya meminta pertolongan Tuhan. Saya tidak mau membuat seisi rumah panik juga,” papar Nara.  Setelahnya, saya merasa ada satu kekuatan dari dalam, ia muntah lendir dalam jumlah banyak. Seperti carian keluar semua, ditarik. “Dan baru saya merasa lebih lega, bisa bernafas.”

“Apakah saya Covid? Di dalam lubuk hati saya, saya mencurigai diri saya 99% Covid. Hanya saja saya masih dilindungi yang Di atas. Dua minggu saya terkapar lemah di kamar. Ada kalanya tak sadarkan diri. Setelah dua minggu, saya juga tidak bisa banyak beraktivitas,” kata Nara. Nada tidak hanya sekali melakukan tes. Ia melakuan tes kedua dengan PCR dan hasilnya negatif.  Menurut seorang dokter, dari India yang menangani Covid-19, hal-hal seperti ini terjadi. Mengalami gejala Covid, tapi tes menyatakan negatif. Apa sebabnya?

Penjelasan Dokter, Mengalami Gejala Covid Tapi Negatif

dr. Sonal Mehrotra Kapoor, dokter yang menangani Covid-19 di India hingga di masa yang mengganas di awal tahun ini, mengatakan kalau hal seperti ini terjadi di India. Gejalanya memang Covid, tapi hasil tes menyatakan negatif. Akhirnya orang ini merasa dirinya negatif, tidak melakukan prokes. Alhasil, menyebar, dan kian meluas penyebarannya. Ini yang membuat angka Covid akhirnya tinggi di India.

PCR memang masih menjadi alat deteksi yang dianggap paling valid sampai saat ini. Tapi, ada tapinya, nih ladies. dr. Sonal mengatakan, instrumen yang digunakan untuk mendeteksi bisa saja tidak valid, salah satunya, karena alatnya tidak lagi compatible dengan perkembangan virus yang terkini. “Virus ini sudah bermutasi ke beragam bentuk saat ini. Sementara alat-alat ini belum mengikuti perkembangan hingga mutasi virus yang terkini. Belum di-update. Masih menggunakan alat dengan kapasitas deteksi virus yang lalu, di gelombang pertama,” jelas Sonal.

Ada beberapa alasan lainnya juga yang disampaikan dr. Sonal yang menyebabkan hasil negatif, tapi gejalanya sangat mendekati Covid. Terkait proses di laboratorium dan reaksi virus terhadap tubuh. Lebih lengkapnya, yuk, dengar di podcast “Perempuan Berbagi Cerita”, di Spotify.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here