7 Rekomendasi Film LGBTQ+ Asia Terbaik, Teman Nonton di Perayaaan Pride Month

0
the handmaiden
Kredit: Amazon Studios/Magnolia Pictures

Kaum LGBTQ+ saat ini tengah merayakan Pride Month yang hadir di bulan Juni. Salah satu cara terbaik untuk melakukan selebrasi terhadap bulan yang menjadi kebanggaan kaum tersebut adalah dengan menyaksikan deretan film bertema LGBTQ+ yang inspiratif.

Berikut rekomendasi film LGBTQ+ Asia terbaik untuk ditonton selama Pride Month, termasuk dari Korea Selatan, Pakistan dan Taiwan, yang dipuji karena menggambarkan tema-tema yang dianggap tidak sesuai dengan norma, seperti identitas gender, ekspresi seksual, dan hubungan yang dianggap aneh.

Happy Together (1997), Hong Kong

Film klasik karya sutradara Hong Kong Wong Kar Wai ini dianggap sebagai salah satu film LGBTQ+ terbaik dalam gerakan New Queer Cinema.

Ceritanya mengikuti kisah Lai (Tony Leung) dan pacarnya Ho (Leslie Cheung) ketika mereka tiba di Argentina dari Hong Kong, berharap untuk kehidupan yang lebih baik. Namun hubungan mereka penuh dengan kerikil-kerikil tajam ketika Lai bertemu Chang (Chen Chang), yang membuat hatinya berubah.

Love of Siam (2007), Thailand

Salah satu film Thailand terbaik yang menerima pujian dari kritikus setelah perilisannya, yang menyebut Love of Siam sebagai terobosan karena menjadi salah satu film Thailand pertama yang membahas seksualitas remaja.

Drama romantis berlapis ini dimulai ketika sepasang teman masa kecil Tong (Mario Maurer) dan Mew (Witwisit Hirunwongkul) bertemu di Siam. Kedua anak laki-laki itu memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Tong populer dan ramah sementara Mew pendiam. Akan tetapi keduanya kemudian terjebak dalam sebuah perasaan tidak diduga akan mereka alami.

The Handmaiden (2016), Korea Selatan

The Handmaiden adalah film thriller psikologis erotis Korea Selatan yang disutradarai oleh Park Chan Wook, yang terinspirasi dari novel Fingersmith (2002) oleh Sarah Waters. Dalam adaptasi Koreanya, sang sutradara mengubah setting dari era Victoria ke Korea di bawah pendudukan Jepang. Film ini bersaing untuk Palme d’Or dan Queer Palm di Festival Film Cannes 2016.

Lady Izumi Hideko (Kim Min Hee) menyewa seorang pelayan wanita bernama Nam Sook Hee (Kim Tae Ri) untuk membantunya. Tanpa diketahui oleh wanita bangsawan itu, pelayan tersebut sebenarnya adalah seorang pencopet yang disewa oleh seorang penipu (Ha Jung Woo), yang ingin menguras harta para wanita kaya. Tetapi hal-hal tidak berjalan sesuai rencana karena kedua wanita itu kemudian jatuh cinta.

Billie and Emma (2018), Filipina

Film yang satu ini merupakan kisah LGBTQ+ dengan genre coming of age yang disutradarai oleh Samantha Lee. Mengambil latar pada pertengahan tahun 1990-an, Billie and Emma fokus pada kisah dua gadis remaja Billie (Zar Donato) dan Emma (Gabby Padilla).

Billie dikirim dari Manila ke kota terpencil di mana ayahnya berharap dia akan belajar untuk tidak menjadi lesbian. Di sana, dia bertemu Emma dan keduanya jatuh cinta. Kisah asmara mereka mulai rumit ketika Emma mengetahui bahwa dia hamil.

Your Name Engraved Herein (2020), Taiwan

Film ini menjadi pembicaraan ketika dirilis secara global di Netflix dan merupakan film LGBTQ+ dengan pendapatan kotor tertinggi dalam sejarah Taiwan serta film terpopuler pada tahun 2020.

Drama romantis ini mengambil latar tahun 1980-an ketika darurat militer berakhir di Taiwan. Dua siswa muda A han (Edward Chen) dan Birdy (Wang Po Te) tengah menuntut ilmu di sekolah Katolik khusus laki-laki.

A han berteman dengan Birdy, seorang siswa baru, karena keduanya memiliki kecintaan yang sama pada musik. Kemudian, mereka melakukan perjalanan ke Taipei dan menjadi lebih dekat. Namun terlepas dari ketertarikan mereka satu sama lain, keduanya tetap ragu untuk saling menyatakan perasaannya masing-masing. Keadaan bertambah rumit ketika sekolah mulai menerima murid perempuan.

Midnight Swan (2020), Japan

Midnight Swan adalah film Jepang yang dirilis pada tahun 2020. Film ini menerima sembilan nominasi di ajang Japan Academy Film Prize ke-44 dan membawa pulang anugerah Picture of the Year dan Outstanding Performance by an Actor in a Leading Role untuk Tsuyoshi Kusanagi.

Film ini bercerita tentang Nagisa (Kusanagi), seorang wanita transgender. Dikucilkan oleh masyarakat, dia meninggalkan Hiroshima ke Tokyo dan mulai bekerja sebagai penari di klub malam.

Keponakannya, Ichika (Misaki Hattori) adalah seorang siswa SMP yang diabaikan oleh ibunya. Dia pindah ke Tokyo dan tinggal bersama Nagisa, yang awalnya enggan mengurus orang lain. Tapi tak lama kemudian, dia mulai merasakan bagaimana rasanya menjadi “ibu”.

Joyland (2022), Pakistan

https://www.youtube.com/watch?v=kbAyOnCGZ0Q

Joyland baru-baru ini membuat sejarah di Festival Film Cannes ke-75 sebagai film Pakistan pertama yang terpilih sebagai entri resmi. Film tersebut membawa pulang dua penghargaan, yaitu Un Certain Regard Jury Prize dan Queer Palm. Joyland dipuji karena mengangkat isu gender dan seksualitas serta mendapuk aktris transgender Alina Khan sebagai pemeran utamanya.

Disutradarai oleh Saim Sadiq dalam film debutnya, Joyland berkisah tentang putra bungsu keluarga patriarki di Pakistan. Dia diharapkan dapat meneruskan garis keturunan keluarganya dengan melahirkan seorang bayi laki-laki bersama istrinya.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, pria itu justru bergabung dengan teater dansa erotis di mana dia jatuh cinta dengan direktur teater yang merupakan seorang wanita transgender.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here